Kamis, 24 Maret 2011

Sejarah Teater



Kata teater atau drama berasal dari bahasa Yunani ”theatrom” yang berarti gerak. Tontonan drama memang menonjolkan percakapan (dialog) dan gerak-gerik para pemain (aktif) di panggung. Percakapan dan gerak-gerik itu memperagakan cerita yang tertulis dalam naskah. Dengan demikian, penonton dapat langsung mengikuti dan menikmati cerita tanpa harus membayangkan. Teater sebagai tontotan sudah ada sejak zaman dahulu. Bukti tertulis pengungkapan bahwa teater sudah ada sejak abad kelima SM. Hal ini didasarkan temuan naskah teater kuno di Yunani. Penulisnya Aeschylus yang hidup antara tahun 525-456 SM. Isi lakonnya berupa persembahan untuk memohon kepada dewa-dewa. Lahirnya adalah bermula dari upacara keagamaan yang dilakukan para pemuka agama, lambat laun upacara keagamaan ini berkembang, bukan hanya berupa nyanyian, puji-pujian, melainkan juga doa dan cerita yang diucapkan dengan lantang, selanjutnya upacara keagamaan lebih menonjolkan penceritaan.
Sebenarnya istilah teater merujuk pada gedung pertunjukan, sedangkan istilah drama merujuk pada pertunjukannya, namun kini kecenderungan orang untuk menyebut pertunjukan drama dengan istilah teater.
”Perkembangan teater saat ini adalah perkembangan teater post-Stanislavsky. Tapi kita baru mulai, akibatnya biarpun lama berteater, tapi tidak melahirkan aktor yang baik.” Sungguh, hal itu terngiang lagi di kesadaranku, karena ternyata permasalahan lama itu muncul kembali, diujarkan dengan bahasa yang lain oleh Harris Priadie Bah dalam diskusi teater yang diadakan oleh meja budaya hari Jumat tanggal 18 Juli 2003 lalu di PDS. HB. Jassin. Dengan bahasanya, Harris menyatakan bahwa teater modern Indonesia merupakan teater yang didirikan dengan tradisi pemusatan kuasa pada corak badan dan pikiran sang sutradara. Kalaupun toh kemudian ada yang memilih teater sebagai jalan, yang muncul kemudian adalah teater yang hidup dengan semangat memperbaharui yang terus-menerus dengan segala pencarian bentuk kreatifnya sebagai bahasa visual. Tradisi cuma sekadar aksesoris, bahkan terkadang sampai melawan tradisi, itu pilihan.
Yang harus kita tumbuhkan sekarang ini adalah sebuah teater yang benar-benar tanpa hubungan dengan para pendahulunya. Maka tidak penting lagi dipertanyakan, teater sutradara atau teater aktor yang muncul, atau malah teater naskah, karena ternyata naskah yang tertulis lebih kuat dibanding aktor atau sutradaranya, misalkan. Semuanya telah selesai ketika itu didiskusikan dan digodok hingga menjadi sebuah ide bersama yang lebih matang dan jelas.

Pertunjukkan teater rakyat tidak hanya untuk hiburan masyarakat penonton. Di balik itu, ada amanat yang ingin disampaikan kepada masyarakat tentang sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan sosial masyarakat. Kehidupan yang dimaksud menyangkut seluruh perilaku sosial yang berlaku pada kelompok masyarakat tertentu. Misalnya, kehidupan moral, agama, kehidupan ekonomi, dan kehidupan politik.
Semua itu tercermin dalam bentuk garapan teaternya. Bentuk-bentuk garapan teater rakyat selalu dan merupakan cerminan kehidupan sosial. Apa yang diungkapkan dalam garapan teaternya adalah suasana hati, perasaan, dan nurani, serta keadaan jiwa. Oleh karena itu, teater merupakan media ungkap seniman teater sebagai wakil dari nurani masyarakat pendukungnya.
1. Fungsi Teater
Berikut fungsi-fungsi teater dalam lingkup sosial masyarakat.
a. Teater berfungsi sebagai media untuk mengungkapkan ide-ide keindahan (presentasi estetis). Manusia bisa tersentuh oleh ungkapan-ungkapan seniman lewat media teater. Bagaimana indahnya hidup rukun dengan sesama dan bagaimana indahnya hidup berdampingan dengan alam. Kadang-kadang, ide-ide itu tidak semuanya menyenangkan penonton. Bisa saja penonton setelah melihat pertunjukkan teater merasa benci, marah, takut, haru, atau sedih. Semua perasaan itu luruh menjadi perasaan tunggal, yaitu indah (estetis). Menonton sebuah pertunjukkan teater adalah belajar menafsirkan ide-ide apa yang dikomunikasikan oleh seniman teater kepada khalayak. Oleh sebab itu, penonton dituntut untuk tidak hanya menggunakan emosinya dalam menyaksikan pertunjukkan, tetapi juga pikirannya agar bisa mengambil hikmah dari apa yang telah disaksikannya. Dalam sebuah pertunjukkan, selalu ada tema, isi, serta pesan yang ingin disampaikan kepada penonton. Menonton adlah proses belajar memahami gagasan atauide yang disampaikan oleh orang lain (seniman). Jika kamu tidak paham, pertunjukkan teater tersebut tiada bermanfaat. Oleh sebab itu untuk memahami sebuah pertunjukkan, kamu harus sering menonton pertunjukkan teater agar hati dan pikiranmu terasa menerjemahkan sebuah karya drama.
b. Teater berfungsi untuk alat propaganda, misalnya program-program pemerintah, propaganda politik, atau program-program yayasan tertentu yang berhubungan dengan jasa layanan masyarakat. Program-program pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah sering dititipkan pada pertunjukkan teater rakyat. Misalnya, menyosialisasikan program Keluarga Berencana (KB), sadar hukum, disiplin nasional, bebas narkoba, atau hidup sederhana.
2. Sastra dalam Teater Nusantara
Sastra merupakan bahan baku untuk sebuah pertunjukkan teater. Di samping sebagai dasar pijakan untuk proses garapan teater, sastra merupakan sumber ilham yang membentuk lakon. Seperti telah diungkapkan pada bagiansebelumnya, sastra dalam teater rakyat pada umumnya tidak tertulis (sastra lisan).
a. Tema, yaitu pokok cerita yang terdapat dalam naskah untuk dikomunikasikan kepada penonton. Di dalam tema, terdapat seperangkat ide atau gagasan. Di dalam ide terdapat seperangkat nilai atau kebajikan. Untuk lebih jelasnya, ada sebuah cerita legenda yang terdapat di daerah Betawi (Jakarta) yang berjudul “Si Jampang Jago Betawi”.
Tema utama dalam cerita tersebut adlah tentang kepahlawanan. Si Jampang ialah pahlawan bagiorang-orang Betawi (sekarang Jakarta). Dia berusaha sekuat tenaga mengorbankan segalanya untuk mewujudkan keadilan. Dia terus memerangi kedzaliman yang dilakukan oleh kaum penjajah terhadap masyarakat pribumi.
Dari tema tersebut, terdapat ide-ide cerita, yaitu cinta kebenaran, kuat dalam keyakinan, berkorban, untuk kepentingan umum, dan benci pada kejahatan. Dalam ide tersebut terdapat nilai-nilai, seperti cinta kasih, keimanan, ketaqwaan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemanusiaan. Apabila dilihat dri tingkatanya, seperangkat nilai membentuk sebuah ide. Seperangkat ide membentuk sebuah tema, dan seperangkat tema membentuk sebuah cerita.
b. Struktur dramatik, yaitu pola adegan yang disusun berdasarkan tingkat penggawatan atau konflik. Pada adegan pertama, biasanya diawali dengan pemaparan (eksposisi). Pada adegan berikutnya, terjadi insiden  permulaan (konflikasi) yang kemudian terjadilah penanjakan (konflik). Setelah itu, terjadi puncak dari konflik (klimaks), penyelesaian (antiklimaks), dan diakhiri dengan kebahagiaan (happy ending).
c. Plot, yaitu jalinan cerita yang ditemukan oleh hukum sebab -akibat. Plot sangat berhubungan dengan bentuk penyajian cerita. Ada tiga bentuk penyajian cerita, yaitu secara kronologis, flashback, dan acak.
  1. Secara kronologis (berdasarkan urutan waktu), yaitu cerita berawal dari A dan berakhir di Z.
  2. Secara flashback (alur mundur), yaitu bentuk sajian cerita yang dimulai oleh bagian akhir. Misalnya, tiba-tiba pada adegan pertama itu tidak dimulai dari A, tetapi dari Z. Selanjutnya dipertanyakan kenapa Z? Z ada karena Y, kenapa Y? ada karena X dan seterusnya sampai pada bagian A.
  3. Secara acak, biasanya para penggarap pertunjukkan mengambil adegan -adegan tertentu yang paling menarik untuk dijadikan awal babak atau adegan.
Dari ketiga bentuk penyajian cerita tersebut, urutan secara kronologis umumnya paling sering digunakan dalam pertunjukkan teater rakyat. Pada pelaksanaannya, jalinan cerita dalam teater rakyat tidak ketat. Dalam pentas teater rakyat, sering diselipkan beberapa selingan di antara babak atau adegan. Maksudnya, untuk mengendorkan tingkat ketegangan para penonton yang mengikuti jalan cerita.
d. Setting atau latar, yaitu latar belakang waktu dan tempat peristiwa di dalam cerita. Jika seseorang mendengarkan dongeng dari seorang pendongeng, kalimat yang pertama diucapkan biasanya berhubungan dengan waktu dan tempat serta peristiwa. Namun, wujud pementasan dalam teater tidak harus selalu digambarkan kenyataan sejelas-jelasnya tentang ruang dan waktu. Kenyataan ruang dan waktu menurut cerita hanya ada dalam imajinasi para pemain dan dilakukan dengan penuh keyakinan dengan didukungan setting panggung yang baik. Dengan demikian, penonton pun dapat ikut larut dalam pementasan sebuah lakon.

0 komentar:

Posting Komentar